3/23/2014

3 Hati 2 Rasa

Wajah cantik itu dambaan semua wanita. Wajar kalau para wanita mencari-cari kesana-kemari alat-alat untuk membuat dirinya tampil cantik. Contohnya lipstik, bedak, parfum, eye shadow dan sejenisnya. Dan bahkan ada yang rela merogoh kocek lebih dalam agar tampil cantik dengan operasi plastik. Tapi tidak dengan yang satu ini, namanya Annisa. Wajahnya cantik merona dan banyak laki-laki di sekolahnya yaitu SMAN 3 suka kepadanya. Annisa cantik tanpa alat make up, tanpa operasi, karena sejak lahir ia dilahirkan dengan wajah yang cantik.

Annisa memiliki sahabat, namany Sartika, biasanya dipanggil Tika. Sahabatnya ini merupakan sahabat yang paling ia sayangi sewaktu kecil, karena Nisa dan Tika telah berteman sejak kecil. Telah banyak peristiwa yang mereka lalui sejak kecil. Saling berbagi di saat memiliki sesuatu, saling membantu ketika kesusahan, dan saling mendoakan agar mereka selalu bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Kalau Nisa memiliki masalah yang berat, Nisa tak segan-segan untuk curhat kepada Tika, agar masalah yang dialami cepat diselesaikan. Namun, sangat disayangkan, mereka yang selalu bersama sewaktu kecil, semasa TK, SD, dan SMP, ternyata harus dipisahkan oleh berbedanya tempat sekolah. Hubungan di antara mereka menjadi renggang. Sejak SMA, Tika tak pernah memberi kabar. Yang Nisa tau tentang Tika hanya satu, yaitu Tika sekolah di SMA 2.
Yang lalu biarlah berlalu, sedikit demi sedikit, Nisa mencoba tuk melupakan kenangannya bersama sahabatnya. Saat ini, Nisa mencoba tuk menghapus mengenai masa lalu bersama sahabatnya dan menatap masa depan yang lebih cerah. Masih banyak orang lain yang  berteman dengan Tika, contohnya di SMA 3, walaupun tak seperti Nisa.

Masa SMA merupakan masa yang terindah buat para remaja dengan jiwa mudanya untuk merajut cinta. Di masa SMA banyak insan menaruh rasa suka kepada pasangannya. Tak terkecuali Annisa, salah satu anak tercantik di sekolahnya SMA 3. Ia sudah 3 bulan lamanya menjalin kasih dengan seseorang, namanya Dedi. Ia sekolah di SMA 2. Yap. Sekolah dimana sahabat karibnya dahulu sekarang bersekolah. Rupanya tampan, harta berlimpah, serta baik hati. Apapun yang Annisa pinta kepada Dedi, selalu saja terpenuhi.

Seperti biasanya, hari-harinya di sekolah sewaktu berjalan di koridor sekolah, ia bagaikan Ratu, semua mata tertuju kepadanya. Tapi bagi dirinya hal itu sangatlah membosankan. Tidak ada yang unik. Yang ia harapkan hanyalah suara bel pulang berbunyi. Dengan begitu ia dapat melepaskan rasa rindunya kepada sang pujaan hati.

Ketika bel pulang berbunyi, dengan segera Nisa mengemas peralatan sekolahnya, dan menuju ke tempat di mana ia biasanya menunggu Dedi menjemput dirinya. Yaitu di samping surau/mushola SMA 3. Sesampainya di Mushola, ia duduk manis di samping pohon rambutan dan masjid. Tampak Nisa tersenyum lebar, sambil melihat jam berdetak, bergerak terus tanpa henti. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, tak terasa 3 jam telah berlalu. Dedi tak kunjung datang. Hatinya menaruh rasa curiga dan penasaran.

“ayang dimana sih, dah jam segini kok belum datang? Lagi ngapa sih ay? Dak inget kah aku lagi nunggu disini”, pikirnya dalam hati.

Tak beberapa lama kemudian motor Sang Pujaan hati tampak dari kejauhan. Motor bermerk Satria Fiso atau ngetren di panggil SaEf berwarna merah dan hitam mengkilat itu datang. Namun tak disangka-sangka, terlihat Dedi berboncengan dengan sosok wanita yang tak asing baginya. wajahnya seperti sahabat lamanya. Hati Nisa bertanya-tanya tentang orang itu.

Ketika motor itu hampir melewati gapura sekolah, ia mengira Dedi ingin menjemput dirinya, tetapi selang beberapa menit motor itu melesat melewati gapura itu. Nisa heran kenapa Dedi tak menjemputnya. Ternyata Dedi dan wanita yang tak asing baginya itu pergi ke Pameran yang diadakan di sekeliling stadion. Hati Nisa terpukul. Ia bertanya-tanya apakah pasangannya itu selingkuh atau tidak. Nisa pun pulang ke rumahnya tanpa di antar oleh sang kekasih sembari menangis dalam hati.

Sesampainya Dirumah, Nisa mengirim SMS ke Dedi. Ia berencana mengajak bertemu di suatu tempat yang biasa mereka berdua kunjungi sewaktu masih baru-baru pacaran. Nisa mengirim SMS dengan singkat, padat, dan tegas.

“AY. Pokoknya ti mlm jm 7 PAS, kita ktemuan d tmpt biasa. GPL (Gx Pake Lelet). TITIK  :(”

Dedi bingung kenapa Nisa mengajak bertemu. Dari tulisan SMSnya ia mendefinisikan kalau Nisa sedang marah. Tapi Dedi tak tau kenapa Nisa Marah. Maka Dedi akan datang untuk mencari tau kenapa Nisa bisa marah.

Waktu hampir menunjukkan jam 7 malam. Nisa dan Dedi di rumahnya masing-masing sedang bersiap-siap. Nisa yang biasa repot-repot berdandan agar tampil cantik di mata Dedi, kini ia tak lakukan lagi karena saking marahnya. Nisa pun selesai bersiap-siap, dan menuju ke tempat tujuan. Ia pergi menggunakan motor Matic yang ia miliki. Yang sudah lama tak terpakai. Karena, dulu ketika bersekolah atau jalan kesana kemari, Dedi lah yang menjadi andalan untuk mengantarnya.

Selang beberap menit Nisa akhirnya sampai juga. Ia parkirkan motornya, simpan helmnya di jok, mengunci stang motornya, dan bergegas menuju tempat tujuan. Baru saja ia beberapa langkah dari motornya, ternyata Dedi sudah ada untuk menunggu Nisa di meja yang biasa ia duduki bersama Nisa. Nisa pun memasang tampang cemberut di wajahnya. Nisa bergegas pergi berjalan ke arah Dedi.

Ketika Nisa sampai di meja itu, ia duduk dengan rapi dan Dedi memulai pembicaraan.
“Hai Nis, ada apa nih ngajak ketemuan? Mukamu kok cembetut gitu. Hehehe.”
“AY, ngapa tadi gak jemput! Tau gak sih kalau aku nunggu kau tu dah lamaaaaa banget. Emangnya kamu lagi ngapain sih? Jawab dengan JUJUR.”
“ owh yang itu, sorry Nis aku tadi lagi ngantar nenekku keremah sakit. Maaf ya Nis :)?” 
“Ah, Bohong! Nenek kah Nenek! Tadi sore kulihat kamu bukan bersama nenekmu. Bodynya aja ramping, wajahnya belum keriput pake rok mini pula. Itu kah yang Kau sebut NENEK?”,

Suasana pun berubah, semua pengunjung di tempat itu terdiam. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Namun Nisa tak memperdulikan hal itu. Nisa berharap Dedi jujur kepadanya.

“Cewe yang kamu boncengi itu siapa? Dan anak mana?” 
“Di..diaa... ehm dia itu pacarku. Namanya Sartika atau Tika. Dia anak SMA 2.”

“Hey, dia itu sahabat karibku. Kenapa kamu pacarin dia. Kurang puaskah kamu dengan hanya memiliki satu pacar! Apa Salahku? Sampai-sampai kamu berbuat seperti itu. Mulai hari ini, detik ini, menit ini, jam ini, hari ini di tempat ini kamu harus memutuskan. Pilih dia? Atau aku? Pilih dia? Atau aku? Pilih dia? Atau aku?”, Pertanyaan yang ada di pikirannya, semua Nisa ajukan kepada Dedi. Dan pertanyaan pamungkas pun muncul dari mulut Nisa.

“Oke, aku memutuskan aku memilih dia. Titik. Tau gak sih Nis. Aku sudah bosan terus bersamamu, aku sudah bosan di suruh-suruh olehmu, aku itu bukan babumu. Kamu itu terlalu Possesif. Sifat jelekmu itu membuatku muak. Mulai saat ini, kita PUTUS. Kamu jangan pernah mengganggu hidupku lagi, SMS-SMS  lagi, and lupain aku. O ya, satu pesan buatmu rubah sifat jelekmu. Karena sifat itu yang membuatku tak sayang lagi kepadamu.”

Akhirnya pembicaraan ini berakhir. Kata “putus” terngiang-ngiang di benak Nisa. Nisa masih tak percaya pacarnya itu memutuskannya. Dengan berat hati ia meninggalkannya. Sejak saat itu Nisa bersumpah, akan menjadi pengganggu hubungan mereka hingga mereka putus.